Kemegahan gunung-gunung kini bisa kita jumpai di berbagai foto yang diunggah di media sosial, seperti facebook dan instagram. Dari foto-foto tersebut, gunung-gunung tersebut terlihat begitu megah dan cantik. Membuat siapapun yang melihatnya menjadi tertarik ingin menginjakan kaki di atasnya. Namun, dibalik kecantikan foto-foto gunung tersebut ada potret suram yang kebanyakan orang belum tahu. Yup, apalagi kalau bukan sampah.

Di sepanjang jalur pendakian, banyak sampah berserakan, mulai dari sampah pelastik, sampah kertas, putung rokok, sampah kaleng sampai sampah botol minuman. Sebagai pendaki sejati, tak seharusnya membuang sampah sembarang. Karena sampah-sampah seperti inilah beberapa waktu lalu terjadi kebakaran di sejumlah gunung, salah satunya di Merbabu. Dampak sampah sampah memang mengerikan, seharusanya kita bisa lebih teketuk untuk menjaga kelestarian alam sekitar. Jangan bisanya cuma foto-foto aja, kebersihan sekitar kita juga harus  dijaga.

Nah, buat kamu yang ingin mendaki, ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan selain berfoto cantik di puncak dari Ambo Belitung Tour. Apa saja hal-hal mulia tersebut? Yuk simak.

Jangan meninggalkan sampah di gunung, jangan malas membawa sampah turun

Sebenarnya, disetiap gunung sudah ada tulisan “dilarang membuang sampah sembarang”, tapi beberapa pendaki seolah mengabaikan larangan tersebut dengan belaga  lupa atau memang sengaja menutup mata. Ngaku sebagai pendaki sejati, tapi tidak mampu menjaga kebersihan alam sekitar, itu namanya bukan pendaki sejati. Ya, setidaknya janganlah buang sampah sembarangan. Itu namannya merusakan keindahan alam. Jadi, kalau kamu mendaki, jangan sampai meninggalkan sampah dipuncak atau di area gunung. Biar apa? Biar kebersihan dan kelestarian sekitar tetep terjaga. Kamu manusia, masih punya hati nurani, kan? Jangan belaga masa bodoh, ah.

Untuk menghindari sampah bertumpuk, baiknya kurangi deh masak makanan instan

Ya, buat kamu yang mau mendaki, ada baiknya hindari memasak masakan dari berbahan makanan instan. Kenapa? karena bisanya makanan instant kan dibungkus plastik, bungkus pelastik makanan insatan tersebut yang biasanya banyak ditemuin di puncak gunung. Contahnya bungkus mie instan, bungkus snack atau jajanan ringan, dan lain sebagainya. Perlu kamu tahu, untuk menguraikan sampah pelastik dibutuhkan waktu 50-80 tahun. Jadi, solusinya adalah kurangilah mengkonsumsi makanan yang terbungkus pelastik.

Ada baiknya bawa saja makanan yang berbahan alami seperti sayuran atau  buah-buahan, ya walaupun mungkin sedikit merepotkan untuk dibawa mendaki, tapi bahan-bahan alami tersebut lebih ramah lingkungan dan tentunya lebih menyehatkan. Kalaupun memang ingin tetap membawa makanan instan, sampahnya jangan dibuang sembarang, bila perlu kumpulin jadi satu terus bawa turun. Ingat, pendaki sejati tidak boleh meninggalkan sampah apapun dipuncak keculai kenangan. Ayo mulai sayangi lingkungan.

Ada baiknya bawa aja botol minum isi ulang biar sayang-sayang kalau mau dibuang

Salah satu penyumbang sampah terbesar di puncak gunung adalah botol air minum pelastik. Ya, pasti kita sering lihat banyak botol air minum pelastik berserakan dipuncak gunung, kadang sejumlah pendaki malas untuk membawa turun kembali. Alasannya, selain merepotkan juga memberatkan barang bawaan. Ya, memang tidak semua pendaki seperti itu. untuk mengatasi itu, biasanya para pendaki membawa botol minuman kemasan isi ulang, biar sayang-sayang kalau mau dibuang. Selain ramah lingkungan, botol kemasan isi ulang juga bisa bikin kantong hemat. Buat para pendaki, baiknya gunakan botol isi ulang kemasan saja.

Daripada trash bag, tas karung goni lebih ramah lingkungan

Salah satu hal paling terpuji dan patut ditiru dari seorang pendaki adalah pendaki yang mau membawa sampah turun kembali. Untuk membawa sampah turun kembali, akan lebih baik   menggunakan karung goni dibanding trash bag (kantong plastik). Kenapa karung goni? Karena menurut sejumlah penelitian, karung goni adalah barang yang lebih cepat teruarai dari plastik. Selain itu, karung goni juga bisa digunakan lagi dilain waktu.

Merokok boleh-boleh saja, tapi sampahnya jangan dibuang sembarangan ya

Sejumlah pendaki mempunyai kebiasaan ngopi sambil merokok. Tak heran kalau ada banyak putung rokok yang berceceran di jalur pendakian. Untuk menguraikan putung rokok ini setidaknya membutuhkan waktu 10 sampai 12 tahun lamanya. Jadi,  buat para pendaki, mulailah membiasakan diri untuk tidak membuat putung rokok sembarangan, kumpulkan jadi satu dengan sampah-sampah lainnya lalu untuk kemudian dibawa ke basecamp. Jika ingin rokok yang ramah lingkungan, pilihlah rokok kretek karena sampah rokok kretek lebih mudah sekali terurai dibanding rokok yang ada filternya.

Gunakan kotak makanan berbahan stainless steel untuk membungkus bahan logistik

Untuk menghindari sampah pelastik yang menumpuk, ada baiknya menggunakan kotak  makanan berbahan stainless steel untuk membungkus bahan logistik, seperti kopi, bumbu-bumbu (garam, gula, dll. Tidak masalah jika ternyata kamu hanya mempunyai kotak makan berbahan plastik seperti Tupperware misalnya. Sebab, tujuan dari fungsi kotak makanan tersebut yaitu untuk meminimalisir sampah plastik yang menumpuk. Buat kamu yang memang ingin memasak, sebaiknya bawalah kaleng gas isi ulang jangan beli yang baru. Hal tersebut juga dilakukan untuk meminimalisir pembuangan sampah pelastik.

Oh iya, untuk kamu yang menggunakan tisu, sebaiknya ganti tisu dengan handuk kecil. Biasanya kita suka lupa untuk membawa kembali sampah tisu. Nah, untuk menghindari hal-hal yang demikian itu, membawa handuk kecil bisa menjadi solusi terbaik.

Salah satu menjaga bumi adalah dengan tidak membuang sampah pelastik sembarangan. Tadi sudah disebutkan bahwa untuk menguraikan sampah pelastik setidaknya butuk waktu 50-80 tahun.  Jadi, sebagia manusia yang hidup di bumi, kita harus lebih prihatin dan lebih bijak dalam menyikapi hal ini. jagalah dan cintailah bumu kita. Semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih bijaksana. Jadilah pendaki yang pintar.